Minggu, 13 Februari 2022

merindukanmu Mamak

  sudah hampir enam bulan mamak meninggalkan kami untuk selamanya, aku masih merasa kehilangan, tiap saat rasa sedih menghampiri. hidup seakan tak berjalan normal. setelah menikah, aku tinggal jauh dari mamak, ayah dan adik-adikku. setahun hanya dua kali sekali aku pulang. di Hari raya idul Fitri dan di hari libur semester karena pekerjaanku disini menjadi guru.

    Aku adalah anak pertama dalam keluargaku, ada tiga saudara kandungku, yang terkecil masih berumur 12 tahun. ada rasa penyesalan sampai hari ini, penyesalan itu seperti menghantui aku. sebelum mamak meninggal rencananya beliau mau ke rumah kami untuk menjenguk cucu keduanya yang baru lahir. semua hal sudah dipersiapkan, tiket travel sudah dibeli, oleh-oleh sudah di beli. lalu 2 hari sebelum berangkat tiba-tiba beliau sakit, badannya lemas. aku diberitahu kondisi mamak oleh adik perempuanku. tapi mamak masih sanggup berbicara, karena kondisinya aku membatalkan travel. 

    sehari sebelum meninggal. pagi jam 8 mamak menelponku, aku disuruh pulang. mamak gak sanggup untuk kesini lagi. masalahnya banyak permasalahan yang belum saya urus, aku tetap pergi mengajar, pulang dari sekolah aku bermusyawarah dengan istri, aku memutuskan pulang nanti malam menggunakan travel yang langsung ke kampung mamak.

    dalam perjalanan, adikku selalu mengupdate kondisi mamak, kondisinya makin melemah, urat nadinya makin melemah, teravel yang kau naikin sedang menanjak pengunungan, selama 4 jam tidak ada sinyal. jam setengah 3 malam sampai ketempat singgah untuk makan, sinyal sudah membaik. ditelpon oleh adikku, "mamak sudah tiada," hatiku hancur. perjalananku masih sekitar 8 jam lagi, saat itu jam setengah 3. dalam perjalanan pulang, aku hanya menangis, " seandainya aku pulang tadi pagi, mungkin aku masih bisa melihat mamak" tidak ada anaknya yang paling beliau cintai kecuali diriku. disaat sakaratul mautnya malah aku tidak ada.

    pukul setengah 11 pagi, aku sampai dirumah, jenazah mamak belum dikuburkan, keluarga masih menungguku pulang, aku semmakin tidak bisa membendung airmataku. tidak lama setelah itu, jenazah mamak dibawa ke TPU. aku turun kedalam kubur dan menyambut jenazah ibuku. adik bungsuku mengumandangkan azan, aku memasukkan jenazah ibuku ke liang lahat, lalu memutupnya dengan penutup keranda. Aku menguburkan jenazah mamak, dan itu menjadi perpisahan terakhirku dengan mamak.

    

Hari Raya Tanpa Senyummu

Hari Raya Tanpa Senyummu Takbir raya telah terdengar dari mesjid yang terletak didepan rumah Ramadhan telah pamit dari sisi insan-insan yang...