Selasa, 10 Oktober 2017

Terlahir untuk Peduli


Sahabat,,
Banyak yang bilang saya baik dan peduli, meski sering kali nyeleneh juga nyebelin. Kenyataannya saya tak pernah merasa diri baik dan untuk peduli, mungkin iya. Lelaki ini hanya ingin membalas nikmat Allah yang telah memberikan hidup normal.
Dahulu ketika berumur 4 tahun saya mengalami penyakit step. Penyakit Step adalah penyakit demam yang sudah akut, biasanya dialami anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun.
 kebanyakan anak berumur 5 tahun ke bawah, apabila terjadi demam yang terlalu tinggi maka bisa menyebabkan si anak mengalami kejang-kejang atau step. Para ibu tentunya sangat takut saat anak-anaknya mengalami step ini, pasalnya kejang-kejang seperti itu bisa merusak kerja otak bahkan bisa menyebabkan kematian

Sumber: https://pulauherbal.com/jurnal/4325-mengenali-penyakit-step-kejang-demam.html


Tahun 1991 di kecamatan saya dokter itu masih sangat langka. Biasanya pengobatannya masih memakai obat-obat tradisional. Tahun-tahun itu para Dukun masih sangat berjaya dan selalu dipercayakan untuk mengobati segala macam penyakit. tapi step bukanlah penyakit yang bisa diobati oleh para dukun-dukun kampung, makanya tak heran bila banyak anak-anak pada saat itu mengalami kematian atau berakhir dengan kelumpuhan juga idiot.

Saat itu, ada dua anak lagi yang juga mengalami penyakit step. Mereka tinggal di kampung sebelah dan nasibnya berakhir menjadi idiot, saraf otak mereka tidak berfungsi lagi. 
Suatu malam keadaan saya mulai kritis, lalu orang tua membawa saya ke seorang mentri yang rumahnya berada lumayan jauh dari rumah saya. -saat itu kendaraan masih langka-. ayah mengayuh sepeda dan dalam hatinya berharap saya sembuh dan tumbuh menjadi anak normal. sesampainya di rumah Pak Mentri, di periksa keadaan saya dan diberilah obat sirup (mamak gak tahu apa nama obat itu) lalu pulang. Sampai dirumah obat itu langsung diminumkan ke anak yang masih menjadi tanda tanya akan masa depannya. Sahabat, obat itu berdosis tinggi dan rasanya sangat pahit dan reaksinya berjalan seperti yang diinginkan. panas dalam tubuh saya keluar membuat kulit saya bewarna merah. Saya sembuh meski harus mengalami efek samping dari obat itu. selama hampir dua tahun air liur saya meleleh tak henti.
Usia 6 tahun saya kembali normal, sangat normal. 
(mamak menceritakan kisah ini ketika saya kelas 1 SMA)

Sejak itu saya menjadi pribadi yang peduli, peduli masalah orang, peduli kesusahan orang dan selalu siap membantu orang sebisa saya bantu.
Saya tidaklah baik, masih berusaha menjadi orang baik...

Hari Raya Tanpa Senyummu

Hari Raya Tanpa Senyummu Takbir raya telah terdengar dari mesjid yang terletak didepan rumah Ramadhan telah pamit dari sisi insan-insan yang...