Kamis, 28 April 2016

Kulihat Tarempa Tersenyum

            Azan subuh sudah dikumandangkan dari atas kapal. Aku dan teman-temanku sudah mulai beranjak ke belakang dek VI untuk menuju ke mushala kapal. Setelah shalat subuh, kapten kapal memberikan pengumuman bahwa setengah jam lagi kapal akan bersandar di pelabuhan Tarempa. Hatiku tersenyum, "Aku sudah sampai ke negeri ini". Suasana kapalpun sudah mulai sibuk terutama aku dan teman2 yang akan mengabdi ke negri para lanun ini. Tak kusangka mengikuti program SM3T ini telah membawa langkahku sejauh ini. kurang lebih 19 jam di atas kapal KM Bukit Raya yang berangkat dari pelabuhan Kijang, kabupaten bintan dengan tujuan kepulauan Anambas. 19 jam berada di lautan Cina Selatan adalah pengalaman baru bagiku dan para sahabat2ku yang luar biasa ini. apalagi menghabiskan waktu 12 jam dalam gulitanya malam hingga aku tak bisa menikmati pemandangan alam, kadang aku juga didera kecemasan "bagaimana kalau kapal ini tenggelam" dan pertanyaan2 seperti sangat mengganggu. maklum inilah pertama kali aku naik kapal laut.
              Kapal sudah mendekati pelabuhan dan sebentar lagi akan berlabuh di pelabuhan, terdengar kapten kapal mengatakan "Selamat datang di tarempa". aku dan para sahabat yg lelaki sudah siap-siap terlebih dahulu untuk mengangkat koper2 kami yang berjumlah 41 orang. kapal sudah bersandar dan kami para penumpang tujuan Tarempa mulai turun dari kapal, para guru SM3T yang cewek membawa tas kecil dan yang cowok bahu membahu angkut koper. di bawah kami sudah di sambut oleh perwakilan Dinas Pendidikan Anambas. sesuai dengan arahan Pak Alex (perwakilan dari dinas pendidikan Anambas yang menjemput guru SM3T UNSYIAH dan UPI dari Tanjung pinang). kedatangan KM Bukit Raya membuat pelabuhan menjadi ramai di karenakan selain menurunkan penumpang tujuan anambas tapi juga akan ada penumpang yg akan menuju Natuna Atau tujuan Pontianak yang bakal naik kapal ini.
       Mentari masih bersembunyi di balik bukit-bukit kota tarempa. Hari masih gelap dan sebentar lagi mentari akan mulai menunjukkan pesona anambas di pagi hari. Para porter masih sibuk mengangkut barang2 bawaan para penumpang yg membutuhkan jasanya. Kami para guru SM3T tak membutuhkan bantuan porter, karena kami juga mendapatkan bantuan dari pihak dinas untuk mengurusi koper-koper kami yang seberat lemari yang kemudian di naikkan ke atas tosa  -sejenis becak motor- dan dibawa ke hotel Tarempa Beach.
      Aku dan teman-teman memilih jalan kaki menuju hotel setelah letaknya di tunjukkan oleh pihak dinas. Hari itu hari minggu dan kota Tarempa terlihat sepi.
  "Pak, kok kota ini sepi ya!" Tanyaku pada seorang bapak yg menjemput kami
  " Tarempa kalau hari minggu memang sepi"kata bapak itu.
 "Itu di karenakan yang punya toko di disi kebanyakan orang Cina (baca Tiongkok) dan setiap hari mereka beribadah di vihara itu" sambung bapak itu sambil menunjukkan vihara yang berada di sebelah barat kota tarempa.
       aku terus berjalan melewati pertokoan-pertokoan  dan sampai di hotel tarempa beach yang terletak dekat dengan kantor Bupati kepulauan Anambas. Hotel tiga tingkat ini kelihatan sederhana tapi ini yang paling mewah di kota ini. terlihat bu Hani ( Kabag pendidikan Anambas yang juga pernah mengenalkan Anambas ketika kami Prakondisi) sibuk mempersiapkan sarapan untuk kami. terlihat sebuah spanduk ucapan selamat datang kepada guru muda SM3T UNSYIAH dan UPI. aku menikmati sarapan pertama di negri ini, menunya lontong, kue dan air teh. 
        Bu Hani membagikan kunci kamar untuk kami semua,aku sekamar dengan Subarni dan wawan kurniawan (UPI). selesai mandi dan ganti pakaian aku kembali keluar hotel untuk menikmati mentari pagi kota Tarempa. kawan, dari sudut timur kota terempa ini aku begitu takjub dengan kuasa Allah, lautan anambas sangat dan luar biasa indahnya, tak henti-hentinya aku mengucap Subhanallah
 " Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan" 
            Di jalanan depan hotel Tarempa Beach ini, aku masih betah berdiri menghadap laut. Aku masih belum percaya sudah berjalan sejauh ini. ku lihat Tarempa tersenyum dan ku membalas senyumnya. seolah ku mendengar kota ini berkata "selamat datang di Tarempa, selamat datang di Anambas" dan ku membalas " semoga aku betah".                

Hari Raya Tanpa Senyummu

Hari Raya Tanpa Senyummu Takbir raya telah terdengar dari mesjid yang terletak didepan rumah Ramadhan telah pamit dari sisi insan-insan yang...